Rabu, 22 Februari 2012

Gitaris Muda Jebolan PURWACARAKA


Sanshi
Kalasansius Joseph Jogo, demikan nama lengkap gitaris muda yang lebih akrab dipanggil Sanshi. Secara kasat mata Sanshi terlihat tenang dan pasti dalam menyikapi sebuah keputusan. Setidaknya hal ini terlihat jelas pada beberapa tahun yang silam saat ia memutuskan untuk keluar dari Congregasi Maria Bunda Carmel. Begitu keras pada pendiriannya namun begitu lembut dalam menyikapi pendiriannya yang keras itu

Ia terlahir dari keluarga sederhana dari kampung Wegok, sebuah dusun kecil di sebelah tenggara kota Maumere. Semasa kecil Sanhi dikenal sebagai orang lemah lembut dan penurut. Ibarat pepatah perlahan tapi pasti Sanshi yang penurut ini ternyata menyimpan sebuah keinginan yang keras untuk menjadi musisi.

 KeyBoarder and Arranger pada Band Pastello
Benar saja pada tanggal 09 Agustus 2006 Sanshi berangkat ke Ibukota guna mengejar cita-citanya ini. Tak pelak, setibanya di Jakarta, calon musisi ini langsung mendatangi Sekolah musik milik Purwacaraka. cabang Bendungan Hilir. Jurusan yang diambilpun cukup rumit " Gitar Kalsik"

Di Jurusan ini ada lima grade yang harus dilalui, masing-masing grade untuk waktu satu tahun,  O. oh . . ternyata butuh waktu yang panjang bila ingin mahir dalam Gitar Klasik,.Namun hal ini tidak menyurutkan keinginannya, "dasar keras kepala", . .Tahap demi tahap ia ikuti, grade demi grade ia tamatkan, hingga akhirnya ia menjadi seorang musisi muda yang kreatif dan inovatif.  Satu hal yang patut dicatat adalah tingkat kesulitan pada tiap grade bervariasi, semakin tinggi semakin sulit, sebut saja grade lima, supaya lulus pada grade ini para peserta harus mampu memainkan sepuluh buah lagu yang sulit berturut turut tanpa salah sedikitpun.  Hmm. . . . .betapa berat ujian ini . . . .

Kesukaannya pada Musik yang rupanya diturunkan dari ayahnya yang adalah seorang Musisi yang cukup punya nama di Era 60 - 80an telah membawa Sanshi, menjadi seorang musisi.

Kini Sanshi sudah mulai menuai hasil kerja kerasnya selama ini. Betapa tidak, di masa mudanya ini sudah punya kesempatan mengajar di tiga sekolah musik di Ibukota.wow . . . keren . . . .belum termasuk "door to door private lesson" penghasilannya pasti lumayan. Namun tidak cukup sampai disini, diselah-selah kesibukannya ia menyempatkan diri untuk membuat lagu, memang belum banyak lagu yang ia hasilkan namun sudah ada lagu yang terupload ke youtube. "Cinta yang Tak Pasti" demikian salah satu judul lagu yang ia ciptakan, ada yang tertarik ? silahkan klik di Mytube pada "web" ini atau di http://www.youtube.com/watch?v=w6Ump4Erhzw (aw) 

Minggu, 20 November 2011

"PAK DORUS" Musisi yang menciptakan Lagu "NUKAK AMI"

Pak Dorus, menciptakan banyak lagu daerah Sikka
Nukak Ami Duna Inan, Noeng Ami Kepang Aman eee. . . Nukak Ba'a Mole Noeng, Noeng Nete Narang Waen, Tali Dagir Lahi Rehi, Karang Kaet Bega Dunan . . . .  

Demikian sepenggal lagu yang populer di era 1964-1965. Lagu ini diciptakan oleh seorang musisi asal kampung Wegok yang cukup punya nama pada masa lalu. Bagi sebahagian masyarakat Sikka lagu ini sudah tidak asing lagi. Siapa sangka lirik dan syairnya digarap dan ditulis oleh Theodorus Surat, dikala masih muda belia.

Sebagai orang muda ia tentunya punya angan-angan dan cita-cita hidup yang ingin dicapai, namun bagaikan pungguk merindukan bulan, angan-angan dan cita-citanya serasa sulit digapai lantaran ia orang tak punya. Hal ini kemudian menginspirasi Musisi ini untuk menuangkan perasaan hatinya lewat sebuah lagu. Lalu dengan berbekalkan sebuah gitar tua pemberian Pater Bollen, SVD ia mulai mencoret-coret syair dan lirik lagu dimaksud. Akhirnya jadilah sebuah lagu, di ujung Agustus 1964 yang ia beri judul "Nukak Ami"

Seperti halnya lagu-lagu ciptaanya yang lain (Kasi Ora Wine, Ulit Lusi Hama-Hama, Me Blutuk Bai Murin, Dolor Wolon dll) iapun kemudian membawa lagu ini ke kelompok musik mereka dan berlatih bersama rekan-rekannya di Group musik Rano Unen.

Suatu kebanggaan tersendiri baginya karena hanya dalam waktu tiga bulan lagu ini menjadi cukup populer di masa itu. Perasaan yang sama juga dirasakan crew wegokpermai ketika meliput Festival Seni Sikka di Wetakara pada 10 Oktober 2011. Cukup tertegun ketika menyaksikan lagu ini dibawakan oleh sebuah group musik disana. Simak Liputan Videonya, . . . .
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Nukak Ami
Oleh : Group Musik Weta Kara
Cipt. Theodorus Surat
Agustus 1964

Kamis, 03 November 2011

Kunjungan TIM NTA Australia ke Wilayah Wegok

Ibu Ria dan Pak Andre
Ibu Kris dan beberapa pengurus Kel Tani
Masyarakat Wegok, lagi-lagi bergembira karena untuk kesekian kalinya dikunjungi oleh Tim NTA Australia. Kali ini Tim NTA terdiri dari Ibu Ria (Fundrising NTA) Pak Andre (NTA Regional Project Manager), Ibu Chris (Sekretaris NTA) bersama TIM YPMF mengunjungi kelompok binaan YPMF - NTA, guna melihat secara langsung hasil pengerjaan bantuan sekaligus melakukan evaluasi atas program-program yang sudah dan sedang berjalan.

Sesuai dengan namanya (NTA : Nusa Tenggara Asociation) adalah sebuah LSM kecil di Australia memiliki focus bantuan khusus bagi pemilik ekonomi lemah di wilayah NTT termasuk Kabupaten Sikka. Untuk wilayah Wegok LSM ini mulai bekerja sejak tahun 2003 hal mana semenjak itu LSM yang dipimpin oleh Dr. Colin Barlow, seorang dosen terbang dari Universitas Nasional Australia ini sudah berbuat banyak demi kesejahteraan masyarakat. Bersama YPMF, NTA sudah membangun MCK, Bak Air, Turap, Jalan Beton, Seng Atap, dll bagi masyarakat Wegok. Mereka tergabung dalam enam buah kelompok pemanfaat. Masing-masih kelompok Paujawat A, Pau Jawat B, Tuke Ler I, Tuke Ler II, Sado Du'et dan Tu'an Temot. Sesuai pantuan kami sudah banyak bantuan yang diberikan untuk kelompok di wilayah Wegok, bantuan dimaksud terdiri dari : Bak : 21 unit untuk 21 keluarga, MCK 16 unit untuk 16 keluarga, Tutupan bak : 5 unit, untuk 5 keluarga, Turap  100m' . Rabat Beton : 200 m', Tenun Ikat : 100 lembar, Kursi dan Meja serta MCK dan Baik Air untuk SD Inpres Wegok dan kambing : 6 ekor yang berkembang biak hingga kini menjadi 23 ekor, belum termasuk yang sudah dijual dan digulirkan.

Sesuai penuturan anggota kelompok, mereka sangat gembira dan bahagia atas hadirnya NTA di wilayah Wegok, karena Bantuan yang diberikan langsung tepat sesuai sasaran sebab langsung menjawabi kebutuhan pokok mereka. Sebut saja bak air, mereka yang dulu biasa memikul bambu untuk mengambil air ke kali atau ke Murut, kini mereka hanya memutar kran demi seember atau sejerigan air untuk kebutuhan mereka. dan  kebiasaan membuang kotoran di hutan sudah diminimilizir dengan MCK bantuan NTA-YPMF. Sementara untuk membawa anggota keluarga yang sakit mereka tidak lagi pikul tapi berkat bantuan rabat jalan NTA mereka sudah bisa menggunakan sarana transportasi yang ada (mobil atau ojeck)./aw

Jumat, 14 Oktober 2011

MURUT "Air Mengalir Sampai Jauh"

sumber air keempat - kapasiatas airnya lebih besar
MURUT, Nama ini tidak asing lagi bagi penduduk dusun Wegok dan sekitarnya. Tempat ini menjadi satu-satunya sumber air bagi masyarakat Wegok di Era 1970 s/d 1990-an. Letaknya di sebuah Lembah diapit oleh tiga bukit di sebelah Selatan, Barat dan Timur. Pada tahun 1980-an atas usaha Bapak Drs. Karolus Surat. Putra kelahiran Wegok, beberapa ahli air tanah dari Jakarta mendatangi dan melakukan survey terhadap mutu dan kelayakan air Murut. Mereka kemudian meneliti sumber air ini, didapati bahwa ada sebuah danau kecil dalam tanah di sebelah barat, jaraknya kurang lebih 10 s/d 20 meter dari mata air. Konon kawah ini mengembun melalui penguapan oleh panas matahari dan titik-titik embun inilah yang kemudian keluar sebagai mata air Murut. Hal ini membuat mata air ini menjadi unik karena di musim kemerau mata air ini menjadi lebih jernih dan lebih segar. Semakin panas matahari menyinari bumi semakin besar air yang keluar dari mata air.

Senin, 03 Oktober 2011

"KALAU DITEBANG, DARI MANA KAMI PEROLEH UANG?"

seorang bocah berada di kebun kakao yang ditebang
Dampak perubahan musim dan pemanasan global berakibat terhadap penurunan hasil panen. Selain tidak berbuah, banyak tanaman komoditi seperti kakao, cengkeh sering terserang hama dan penyakit. Sebut saja kanker buah pada tanaman kakao yang menggerogoti buah kakao yang masih muda hingga akhirnya busuk dan tidak dapat dipanen
Selain umur kakao yang sudah cukup tua, menurunya unsur hara pada tanah.merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker buah dan berbagai penyakit lainnya. Pada umumnya jenis tanaman kakao di wilayah Wegok dan sekitarnya adalah jenis Hybrida yang disupply oleh pemerintah pada 1980-an. Jenis Kakao  yang ini mampu memberikan produksi secara terus menerus selama 20 s/d 25 tahun. sehingga adalah wajar kalau produksi tanaman kakao di wilayah Wegok dan sekitarnya menurun drastis.

Sabtu, 03 September 2011

Ruas Jalan Wegok - Kojablatat Mulai Digusur

Setelah tertunda dua bulan pembukaan daerah terisolasi di dusun Wegok akhirnya dimulai juga. Satu unit excavator  didatangkan ke Dusun ini pada Jumat 02 September 2011 dan langsung menggusur di sekitar Sado Du'et menuju Kojabuluk, Menurut Kepala Dusun Wegok, Thomaston Ruas jalan yang digusur adalah Sadoduet - Rohot - Kojabuluk - Kojablatat yang memakan waktu kurang lebih tiga hari. Pembangunan ruas jalan yang dibiayai oleh anggaran Dinas Pertanian Kabupaten Sikka ini memang sedang ditunggu oleh Masyarakat DusunWegok

Selasa, 16 Agustus 2011

JASAMU TAK TERKIRA, JASAMU TIADA TANDANYA


Theodorus Surat
Theodorus Surat, seorang Guru Sekolah Dasar yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Dorus, dilahirkan di Wegok pada tanggal 07 Mei 1940. Setelah bersekolah di SRK Botang, Watublapi  sosok yang sangat jago musik ini kemudian pindah ke SRK Lela I di Lela, karena SRK Botang di Watublapi dibakar beberapa kali akibat Politik Kanilima oleh Moan Jong. Pada tahun 1954 dipindahkan kembali ke SRK Botang  dan tamat tahun 1955.  Ayahnya yang adalah seorang petani kecil di dusun Wegok sempat ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah anaknya ini. Namun hal ini tetap tidak menyurutkan semangat petani ini, Ia kemudian membawanya  ke  Maumere untuk disekolahkan pada jenjang yang lebih tinggi, yakni Sekolah Guru Bawah (SGB) Maumere. Selama di SGB sosok muda ini belajar Ilmu keguruan, atau didaktik metodik dan ilmu-ilmu lainya yang berhubungan dengan pengelolaan sebuah sekolah dasar.

Naluri musiknya yang bagus membuat Guru ini kemudian meluangkan waktu khusus untuk belajar secara extra tentang musik dan pernak-perniknya, sebut saja Harmonum, Gitar, Biola.dan Olah Vocal yang memang sangat popular saat itu. Sehingga sebelum ia menamatkan sekolahnya di SGB Maumere ia sudah menjadi seorang musisi yang cukup populer pada masa mereka. Hal ini dibuktikan ketika beberapa kali mengisi waktu liburan ia sempat memimpin koor di Gereja Materboni Consilii Watublapi dan sempat membentuk  Group Music di kampung Wegok dan sekitarnya, juga ada banyak lagu yang ia buat yang kemudian menjadi tenar di era meraka, seperti Nukak Ami, Ulit Lusi Hama-Hama, Kasi Ora Wine, Me Blutuk Bai Muri, Dolor Wolon dan sejumlah lagu Rohani dll.
Penataran Kepala SD Model di Kupang Tahun 1998
Setelah menamatkan SGB pada tahun 1959 ia lalu mengabdikan dirinya sebagai seorang guru muda yang mana sesuai aturan kala itu harus bekerja purna waktu dan tanpa imbalan apapun pada satu tahun pengabdian pertama. Namun masa sulit ini berhasil dilalui tanpa ada hambatan berarti karena  semangat dan daya juang  yang tidak pernah surut.
Karir gurunya dimulai dari SRK Botang di Watublapi pada tahun ajaran 1959/1960, dan dipindahkan ke SDK Hewokloang pada tahun 1960 s/d tahun 1961. Dua dari muridnya yang punya nama saat ini adalah Mgr Edmundus Woga, uskup Weetabula dan Drs. Sosimus Mitang, Bupati Sikka periode 2008-2013. Kemudian atas permintaannya sendiri ia dipindahkan ke SRK Ona Palue pada bulan Agustus 1961. Namun karena Gunung Rokatenda meletus pada Desember tahun 1961 maka ia bersama rekan-rekan lainya mengungsi dan pulang ke Maumere. Salah seorang muridnya di SRK Ona adalah Wakil Bupati Sikka Periode 2008-2013, dr. Wera Damianus, MM.
Penataran Kepala SD Desa Tertinggal - Kupang, 1995
Setelah itu oleh sanpukat ia ditempatkan di SRK Rohe s/d tahun 1962, kemudian atas usaha Pater Bollen,SVD ia dikembalikan Ke SRK Botang di Watublapi. Di tahun 1965 ia dipindahkan ke SDK Botang II Maget di desa Wolomapa. 

Setelah tujuh tahun mengajar di sekolah ini pemerintah mengeluarkan aturan mengenai ijasah minimum bagi seorang guru SD, maka ia bersama teman-teman guru tamatan SGB lainnya diharuskan mengikuti pendidikan lanjutan, setingkat SLTA yang mereka sebut Kursus Pendidikan Guru (KPG) yang dilakukan pada sore hari setelah proses KBM di SD usai.
Kemudian pada tahun 1975 guru yang penuh inovasi ini dikembalikan ke SDK Watublapi, dan pada Tahun 1976 ia diangkat oleh Sanpukat menjadi Kepala SDK Watublapi (dikukuhkan dengan  oleh SK Gubernur pada tahun 1980). Bekal ilmu KPG kemudian benar-benar diterapkan dalam proses pengelolaan sekolah hingga pada tahun 1978 bersama Bp Guru Robertus Dasi berhasil mendorong SD ini sampai ke pintu sekolah Favorite (model) dimana prosentase kelulusan EBTANAS selalu 100% . Hal serupa juga terjadi pada SD-SD lainnya yang pernah dikepalainya.
Sepeda motor, menjadi kendaraan utama bagi keluarga
Tahun 1983 seiring dengan didirikannya SD Inpres Liwubao, ia dipindahkan ke SD ini, sebagai orang pertama yang meletakan dasar-dasar pengelolaan pada SD baru ini. Atas inisiatifnya bersama Bp. Guru Hende Retong alm. untuk tukar tempat mengajar, maka pada tahun 1984 ia dipindahkan ke SD Inpres Baomekot. Pada kesempatan ini ia diangkat menjadi ketua Rayon guru-guru Watublapi yang meliputi Watublapi-Kloangpopot sampai Habibola dan Waidahi.
Pada tahun 1987 dari Inpres Baomekot kemudian dipindahkan ke SD Inpres Watuwekak, Napun Seda sampai tahun 1988. Kemudian atas usaha ketua POMG Watublapi, alm. Zakarias Sareng ia dikembalikan ke SDK Watublapi.
Sedangkan dalam bidang seni musik Guru yang pernah mengajar Ilmu Musik dan PMP (PPKN) di SMP Hewerbura dan menjadi organis di Gereja Watublapi ini mencatat sejumlah keberhasilan, SDK Watublapi, pernah menjuarai lomba pop singer di banyak event baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat Kabupaten, juga group musik yang dibentuknya kemudian menjadi sangat terkenal pada masa itu sehingga mendapat berbagai pesanan bermain musik di banyak tempat, di Heo dan Egon Lere misalnya.
Setelah menjalani masa pensiun Bapak Guru ini hijrah kembali ke Wegok, kampung dimana ia berasal dan dibesarkan. Bagai pejuang yang tangguh iapun menembus ruang dan waktu,tidak perduli pada zaman apa, pada umur berapa dan pada situasi apa, berbagai jabatan sosial baik itu di pemerintahan maupun di bidang keagamaan kemudian diembankan ke pundaknya. Hingga pada tahun 2010 bersama Bp. Drs. Sebastianus Bata dan Bp. Fransiskus Xaverius, mendirikan SD  di Kampung Wegok yang merupakan SD kaki dari SD Inpres Baomekot. (ths)