Minggu, 12 Desember 2021

GEMPA FLORES 12 DESEMBER 1992

CATATAN SEORANG MAHASISWA ASAL MAUMERE 

KRI Christina Martha Tiahahu

12 Desember 1992, waktu itu sy baru selesai wisuda, terasa goncangan kecil di kota Kupang. Menjelang jam 4 sore TVRI Memberitakan ttg gempa ini dgn menayangkan banyak foto tentang kerusakan oleh gempa itu di maumere. Hati saya sudah tdk tenang, maklum waktu itu blm ada HP, Saya berlari menuju asrama kelapa gading banyak mahasiswa yg sdg berkumpul. “Kamu mau ikut tidak..?” seorang teman bertanya ke saya, sontak saja sy bilang ikut. Lalu kami rapat bersama, Rapat koordinasi dengan semua teman teman mahasiswa Maumere di Kota Kupang,  Rapat berlangsung sampai jam 11 malam.

Keesokan harinya kami semua bergegas menuju pelabuhan tenau, di sana kapal perang Christina Martha Tiahahu sudah menunggu, kapal itu sedang dalam perjalanan patroli ke bagian Timur Indonesia namun krn bencana maka langsung diarahkan ke maumere, Pagi itu sekitar jam 10.00 wita, setelah kami semua naik, kapal bergerak menuju maumere, rupanya kapal ini tidak telalu cepat, kami baru tiba di Maumere jam 5 sore keesokan harinya. Ketika memasuki perairan teluk Maumere jantung kami semakin berdebar keras, kami menemui banyak puing puing kayu, plastik, jerigen, ban-ban bekas yang memenuhi teluk maumere mulai dari belakang Pulau Besar sampai didepan Pelabuhan Sadang Bui.

Beberapa saat setelah kapal merapat di dermaga kamipun turun namun begitu kami menginjakan kaki di dermaga terjadi guncangan kecil dari gempa susulan, takut akan goncangan itu kami semua lari berhamburan dan masuk kembali ke kapal. Setelah merasa aman kamipun turun kembali melalui pintu utama kapal, Di pelabuhan kami menemui dermaga-dermaga rubuh, ada 1 truck yg tertinggal di sisa puing dermaga dan di dalam dermaga ada banyak kendaraan yg terperosok

Malam itu, setelah rapat koordinasi dgn pimpinan daerah, kamipun pamit untuk mengecek keadaan keluarga. Karena tdk ada kendaraan umum yg beroperasi maka kami jalan kaki menuju rumah masing masing. Saya dan beberapa teman menuju Geliting, berharap ada kendaraan yg bisa yg beroperasi dari geliting. Namun tidak ada satu kendaraanpun yang beroperasi malam itu. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampung kami masing masing, Dalam perjalanan kami menemui banyak bangunan yg rubuh dan orang-orangnya tidur ditenda-tenda yang mereka buat sendiri di depan rumah mereka. Kami sempat singgah di sebuah rumah dan meminta air minum, namun mereka kehabisan air, dan menyarankan kami agar meminum air kelapa saja, lalu datanglah seorang anak muda dan memetik 5 buah kelapa yang ada disamping rumah mereka.

Setelah sekian lama berjalan kami akhirnya tiba di Watublapi, kami berpisah di sana, saya belok ke kanan menuju rumah dan disambut oleh dentangan jam dinding sebanyak 12 kali, Saya menemui gedung SDK Watublapi rata tanah, mess guru rubuh, sementara Bapa dan adik adik saya tidur di tenda darurat di halaman sekolah yg dibuat dari puing puing reruntuhan. Hati saya sedikit lega krn semua anggota kel lengkap.

Toko Kalimas yang rubuh akibat gempa 1992
Keesokan harinya tanggal 15 Desember 1992, saya turun ke kota dgn menggunakan sepeda motor, karena memang itulah satu-satunya kendaraan yang dapat dipakai dalam masa gempa itu. Setelah tiba di posko saya dan beberapa teman diperintahkan ke bandara, di sana memang diperlukan orang yang sedikit mengerti Bahasa Inggris karena di sana ada banyak Pesawat luar negeri yang membawa bantuan untuk korban Gempa dan Tsunami ini. Setibanya kami di bandara kami menemui 2 pesawat hercules RAAF (Royal Australian Air Force) sdg menunggu ada banyak barang barang yg hrs diangkat. Tenda2, terpal, dll. Beberapa saat setelah itu kami kehausan, di pesawat banyak air mineral milik pilot dan beberapa org pembantunya. Saya mendekati pilotnya dan meminta 1 botol, tdk percuma kuliah di bahasa Inggris, pilotnya bilang persediaan air mereka sangat terbatas, sehingga ia memberi kami hanya sebotol.

Puing-Puing reruntuhan akbiat gempa 1992
Hari itu Bandara Waioti, (sekarang Franseda), menjadi bandara tersibuk, banyak pesawat yg hilir mudik mengantar bantuan, Sore hari menjelang malam, kami diperintah menuju Nangahale Gete, di sana sdh ada pasukan Siliwangi sedang menunggu. Sebagai senior saya diminta melaporkan kehadiran kami, setelah mendapat pengarahan tentang cara memasang tenda tenda darurat, kamipun langsung mulai bekerja, pada tengah malam kami dikejutkan oleh pengungsi Pulau Babi yang menggendong seorang bayi, sambil menangis ia mengatakan kasihan bayi ini orang tuanya terkubur pasir dan tidak dapat ditolong, kami datang berkerumun, namun akhirnya bayi tersebut diserahkan ke petugas kesehatan yang ada di lokasi pengungsian. Setelah itu pekerjaan pemasangan tenda darurat kami lanjutkan dan baru selesai pada jam 5 pagi, capek, tapi menyenangkan.

Pagi pagi kami disambut oleh Om Niko untuk sarapan, saya mengenalnya krn memang thn 1990 sy KKN di sana, setelah makan pagi kami diminta pulang ke kota untuk melanjutkan pekerjaan di tempat lain. .sempat keliling kota maumere, banyak banguna bertingkat yang rubuh, retak dan terbongkar oleh ganasnya Gempa Bumi ini. Kala itu mof hanyalah sebuah kota mati...bbrp hari kemudian kamipun pulang dgn pesawat hercules...epang gawam gempa ** AW)

Minggu, 03 Februari 2019

“PIDA“ UMBI YANG KAYA NUTRISI


Gadung adalah sejenis umbi umbian hutan yang tumbuh subur di Sikka dan sekitarnya, tumbuhan ini termasuk tumbuhan melata yang masuk dalam family Dioscorea hispida.

Gadung memiliki kandungan gizi yang besar sprt , protein 2,1 gram, karbohidrat 23,2 gram, lemak 0,2 gram, kalsium 20 miligram, fosfor 69 miligram, dan zat besi 1 miligram.  Selain itu di dalam Gadung juga terkandung vitamin A sebanyak 0 I U, vitamin B1 0,1 miligram dan vitamin C 9 miligram.  Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Gadung, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 85 %. ( Sumber : ( SITUS WEB BELAJAR ONLINE - WWW.ORGANISASI.ORG )

Umbi Gadung (sumber: Buka Lapak)
Sejak dahulu kala Gadung diokonsumsi oleh masyarakat sebagai makanan pengganti makanan pokok dikala musim paceklik.  Begini masayarakat tradisional Hewokloang mengolah gadung  :
Gadung dibersihkan dan dikupas, setelah itu dicuci bersih dan diris tipis. Selanjtunya dijemur dibawah terik matahari hingga benar-benar kering. Lalu gadung direndam di air mengalir selama 2 hari 2 malam, maksudnya agar seluruh zat-zat racun bawaan gadung tersebut larut dan ikut mengalir bersama air yang mengalir tersebut, hal ini hanya mungkin dilakukan di sungai yang airnya mengalir cukup besar dan bersih. Ketika daging gadung menjadi lembek, saat itu bisa dipastikan seluruh racun gadung tersebut sudah hilang, dan gadung aman untuk dikonsumsi.
Bagi kita yang jauh dari sungai, kita bisa lakukan dengan cara merendam lempengan gadung tersebut pada wadah seperti ember atau baskom, dan airnya diganti secara berkala (2-3 jam sekali ganti).tetap selama 2 hari dua malam. Sementara cara orang pesisir mengeluarkan racun gadung adalah dengan membenamkannya di dalam laut selama 2-3 hari sampai lembek daging gadungnya)

Setelah itu Gadung diangkat dan ditiriskan untuk kemudian dijemur kembali hingga benar-benar kering dan disimpan di tempat yang aman dan kering. Ketika hendak mengkonsumsi Gadung diambil dan direndam kembali dengan air, setelah itu dikeringkan dan di tutup dengan daun pisang atau daun turi, sampai tumbuh jamur, saat ini Gadung siap diolah dalam bentuk berbagai menu makanan lokal seperti dikukus, atau ditumbuk sampai halus dan dimasak di bambu.

Di Era kemajuan seperti sekarang Gadung bisa dibuat menjadi berbagai macam kue dan pangan lainnya, Gadung kering yang bebas racun ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan bahan lainnya untuk kemudian dijadikan makanan : Ceker ayam. Steak gadung, dan berbagai kue dengan bahan dasar tepung gadung.
Kini gadung seolah disingkirkan sama sekali, tanpa ada yang mengindahkannya, padahal kandungan gizinya luar biasa kaya. Mari kita mencintai sumber makanan lokal kita.. karena di zaman perang Gadung menjadi makanan pengganti makanan pokok.Semoga**AW

Minggu, 11 Desember 2016

Lagu - Lagu Cipt. Theodorus Surat


Nukak Ami
Theodorus Surat
Cipt : Theodorus Surat
Agustus 1964

Nukak ami
Duna inang
Noeng Ami
Kepang amang e

Nukak Baa
Mole Noeng
Noeng Nete
Narang Waen

Tali Dagir
Lahi Rehi
Karang Kaet
Bega Dunan

E sayang e . . .
E Sayang e . . .
Gaya seorang Theodorus Surat ketika
di depan HARMONIUM
Sayan tena
Ganu pae wineng e
Dunia e du sara goit e
Bunga kelan beli ami e

Susar tena wi apa sayang e
Mora Kasan Amin baa wineng e



Kasi Ora Wineng
Cipt : Theodorus Surat
Juli 1964

Kasi Ora
Kasi ora
Ora wineng
Megung e
Wineng deri
Narang Bano
Tahi lepeng
Tulisan Asli Theodorus Surat
Nuhan e papak

Blawir lau
Lemang temang
Soba narang
Du ganu bliro
Horo mai mai
Lako wineng



Dolor Wolon
Cipt : Theodorus Surat
September 1964

Dolor Wolon
Dolor Wolon e
Ora Wineng
Dolor Wolon

Dolor Wolon
Dolor Wolon e
Ora Wineng
Dolor Wolon

Daa lau Lau
Napun Pehang
Wineng beta
Au sa bian pehan

Sayang e. . .
Sayang e . . .
Wohe Wineng
Du ngami Ngereng

Sayang e. . .
Sayang e . . .
Wohe Wineng
Du ngami Ngereng

 . . . dan masih banyak lagu lainnya seperti Ulit Lusi hama hama, juga Mapa ei Wawa main yang dibuat bersama rekan gurunya J.B. Pius , yang sementara ini sedang diurus pendokumentasiannya . . .

https://www.youtube.com/watch?v=o2XAGi41w9U




https://www.youtube.com/watch?reload=9&v=Rb0teNEsFYc
https://www.youtube.com/watch?v=IxxwUneeKtw
https://www.youtube.com/watch?v=tKkJAcA-Ups
https://www.youtube.com/watch?v=sWLrKbAVc0s

Jumat, 24 Agustus 2012

LODO HU'ER (Du'a Sareng, Simon Surat Leo Lado, Nong Kesik dan Miki Surat)

Papa Blatan
"Meluk le’u ba’a wair, Den Le’u ba’a lengi, Liuk lau man leman, ketok lau man mobo. Lau Nian Nitu Natar, Lau Noan Klo’ang ‘loran, Lau man litin gi’it lau man ‘ler mangan Nitut ‘au e’o lekuk, Noat ‘au e’o bano balong"
-----------------------------------------------------
Pero Urun
Suatu perisitiwa yang sangat meneguhkan hati banyak keluarga dan sanak family berlangsung dari tanggal 19, 20, 21 dan 22 Agustus 2012 di kampung Wegok. Sesuai namanya maka Lodo Hu'er bagi arwah Du'a Sareng, Simon Surat, Leo Lado, Nong Kesik dan Miki Surat dimaksudkan untuk mengangkat arwah mereka ke tempat yang tinggi atau yang kita sebut Surga dalam agama modern. Mengapa kita perlu melakukan peristiwa ini karena kita percaya bahwa penguburan bukan merupakan yang terakhir bagi para arwah dan kerena para arwah (Nitu) berada dalam suasana susah dan tidak berdaya, hal mana yang bisa mengangkat mereka hingga ke pintu Surga hanyalah kita yang hidup.

Liko Lepeng
Dalam upacara ini ada tujuh peristiwa pokok yang harus dialami oleh para arwah (Nitu) yakni : Poto Pare, Tokang Nuhun, Wake Lo'e, Pero Urun  Papa Blatan, 'Ea Gete, Nara Krus, dan Pa’at Krus.

Tokang Nuhun atau yang dikenal juga dengan istilah Liko Lepeng dimaksudkan untuk memberi proteksi secara penuh atau menjaga agar upacara ini dapat berjalan dengan aman tanpa ada hambatan yang berarti, Namun satu hal yang harus diingat adalah seluruh proteksi ini harus release  / diangkat kembali setelah upacara Lodo Hu'er selesai.

Memasuki hari berikutnya upacara Lodo Huer ini diikuti dengan acara Wake 'Lo'e, Pengambilan batu-batu arwah (masing-masing arwah diwakili oleh satu batu) Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil para arwah dan mengajak mereka untuk bersama-sama keluar dari dunia mereka, dunia kematian dan memasuki dunia kita, dunia kehidupan. Karena kita percaya bahwa kehidupan Nitu identik dengan kegelapan maka kita harus menyiapkan lampu sebagai sarana penerangan bagi mereka adalam perjalanannya menuju dunia orang hidup, pada bagian ini kita sebut Pero Urun (penerangan yang terbuat dari daun kelapa kering yang dibakar)
Tanam Salib hanya boleh dilakukan melalui  Lodo Hu'er

Setelah kita bawa para arwah keluar dari kehidupan mereka, maka kemudian, kita akan memasuki tahap persipan pembersihan diri arwah, tahap ini kita sebut Papa Blatan, dimana kelapa dikupas kulitnya, kemudian dikukur lalu dioleskan pada rambut dan muka para arwah.(diwakili oleh ata a blatan)

Salib KRISTUS membawa kemenangan bagi kita semua
Pada hari ketiga kita memasuki tahap upacara 'Ea Gete", hal ini adalah ungkapan rasa syukur atas peristiwa Lodo Hu'er karena melalui peristiwa ini para arwah Lodo Hu'er sudah dibersihkan dari segala dosa dan kesalahan mereka, (mereka telah diangkat menjadi Ratu dan Raja.)

Setelah tahap 'Ea Gete berakhir maka kita akan memasuki tahap berikutnya yakni tahap "Nara Krus", yang didahului dengan perayaan Ekaristi Kudus untuk mendoakan para arwah dan juga pemberkatan salib sebelum ditanam. Sesuai namanya maka pada kesempatan ini seluruh sanak keluarga dihimbau untuk ikut berjaga sepanjang malam, hingga penanaman salib esok hari.

Tradisi ini mengajarkan kita untuk hanya boleh melakukan upacara Pa'at Krus (penanaman salib) pada kubur melalui upacara Lodo Hu'er. Memang harus diakui bahwa peristiwa Lodo Hu'er menyerap banyak energi dan biaya namun, sesungguhnya peristiwa ini mengandung arti dan nilai yang cukup dalam. Moment ini merupakan moment yang pas bagi sanak keluarga untuk berbagi kasih,  saling bersilaturahmi, juga moment penyatuan sanak keluarga yang terserak dan terporak poranda karena sesungguhnya upacara ini menuntut adanya campur tangan dari seluruh sanak keluarga. Seluruh peran dalam pelaksanaan upacara ini harus benar dan sesuai status dan jabatan pemeran dalam keluarga besar (aw)

Rabu, 22 Februari 2012

Gitaris Muda Jebolan PURWACARAKA


Sanshi
Kalasansius Joseph Jogo, demikan nama lengkap gitaris muda yang lebih akrab dipanggil Sanshi. Secara kasat mata Sanshi terlihat tenang dan pasti dalam menyikapi sebuah keputusan. Setidaknya hal ini terlihat jelas pada beberapa tahun yang silam saat ia memutuskan untuk keluar dari Congregasi Maria Bunda Carmel. Begitu keras pada pendiriannya namun begitu lembut dalam menyikapi pendiriannya yang keras itu

Ia terlahir dari keluarga sederhana dari kampung Wegok, sebuah dusun kecil di sebelah tenggara kota Maumere. Semasa kecil Sanhi dikenal sebagai orang lemah lembut dan penurut. Ibarat pepatah perlahan tapi pasti Sanshi yang penurut ini ternyata menyimpan sebuah keinginan yang keras untuk menjadi musisi.

 KeyBoarder and Arranger pada Band Pastello
Benar saja pada tanggal 09 Agustus 2006 Sanshi berangkat ke Ibukota guna mengejar cita-citanya ini. Tak pelak, setibanya di Jakarta, calon musisi ini langsung mendatangi Sekolah musik milik Purwacaraka. cabang Bendungan Hilir. Jurusan yang diambilpun cukup rumit " Gitar Kalsik"

Di Jurusan ini ada lima grade yang harus dilalui, masing-masing grade untuk waktu satu tahun,  O. oh . . ternyata butuh waktu yang panjang bila ingin mahir dalam Gitar Klasik,.Namun hal ini tidak menyurutkan keinginannya, "dasar keras kepala", . .Tahap demi tahap ia ikuti, grade demi grade ia tamatkan, hingga akhirnya ia menjadi seorang musisi muda yang kreatif dan inovatif.  Satu hal yang patut dicatat adalah tingkat kesulitan pada tiap grade bervariasi, semakin tinggi semakin sulit, sebut saja grade lima, supaya lulus pada grade ini para peserta harus mampu memainkan sepuluh buah lagu yang sulit berturut turut tanpa salah sedikitpun.  Hmm. . . . .betapa berat ujian ini . . . .

Kesukaannya pada Musik yang rupanya diturunkan dari ayahnya yang adalah seorang Musisi yang cukup punya nama di Era 60 - 80an telah membawa Sanshi, menjadi seorang musisi.

Kini Sanshi sudah mulai menuai hasil kerja kerasnya selama ini. Betapa tidak, di masa mudanya ini sudah punya kesempatan mengajar di tiga sekolah musik di Ibukota.wow . . . keren . . . .belum termasuk "door to door private lesson" penghasilannya pasti lumayan. Namun tidak cukup sampai disini, diselah-selah kesibukannya ia menyempatkan diri untuk membuat lagu, memang belum banyak lagu yang ia hasilkan namun sudah ada lagu yang terupload ke youtube. "Cinta yang Tak Pasti" demikian salah satu judul lagu yang ia ciptakan, ada yang tertarik ? silahkan klik di Mytube pada "web" ini atau di http://www.youtube.com/watch?v=w6Ump4Erhzw (aw) 

Minggu, 20 November 2011

"PAK DORUS" Musisi yang menciptakan Lagu "NUKAK AMI"

Pak Dorus, menciptakan banyak lagu daerah Sikka
Nukak Ami Duna Inan, Noeng Ami Kepang Aman eee. . . Nukak Ba'a Mole Noeng, Noeng Nete Narang Waen, Tali Dagir Lahi Rehi, Karang Kaet Bega Dunan . . . .  

Demikian sepenggal lagu yang populer di era 1964-1965. Lagu ini diciptakan oleh seorang musisi asal kampung Wegok yang cukup punya nama pada masa lalu. Bagi sebahagian masyarakat Sikka lagu ini sudah tidak asing lagi. Siapa sangka lirik dan syairnya digarap dan ditulis oleh Theodorus Surat, dikala masih muda belia.

Sebagai orang muda ia tentunya punya angan-angan dan cita-cita hidup yang ingin dicapai, namun bagaikan pungguk merindukan bulan, angan-angan dan cita-citanya serasa sulit digapai lantaran ia orang tak punya. Hal ini kemudian menginspirasi Musisi ini untuk menuangkan perasaan hatinya lewat sebuah lagu. Lalu dengan berbekalkan sebuah gitar tua pemberian Pater Bollen, SVD ia mulai mencoret-coret syair dan lirik lagu dimaksud. Akhirnya jadilah sebuah lagu, di ujung Agustus 1964 yang ia beri judul "Nukak Ami"

Seperti halnya lagu-lagu ciptaanya yang lain (Kasi Ora Wine, Ulit Lusi Hama-Hama, Me Blutuk Bai Murin, Dolor Wolon dll) iapun kemudian membawa lagu ini ke kelompok musik mereka dan berlatih bersama rekan-rekannya di Group musik Rano Unen.

Suatu kebanggaan tersendiri baginya karena hanya dalam waktu tiga bulan lagu ini menjadi cukup populer di masa itu. Perasaan yang sama juga dirasakan crew wegokpermai ketika meliput Festival Seni Sikka di Wetakara pada 10 Oktober 2011. Cukup tertegun ketika menyaksikan lagu ini dibawakan oleh sebuah group musik disana. Simak Liputan Videonya, . . . .
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Nukak Ami
Oleh : Group Musik Weta Kara
Cipt. Theodorus Surat
Agustus 1964

Kamis, 03 November 2011

Kunjungan TIM NTA Australia ke Wilayah Wegok

Ibu Ria dan Pak Andre
Ibu Kris dan beberapa pengurus Kel Tani
Masyarakat Wegok, lagi-lagi bergembira karena untuk kesekian kalinya dikunjungi oleh Tim NTA Australia. Kali ini Tim NTA terdiri dari Ibu Ria (Fundrising NTA) Pak Andre (NTA Regional Project Manager), Ibu Chris (Sekretaris NTA) bersama TIM YPMF mengunjungi kelompok binaan YPMF - NTA, guna melihat secara langsung hasil pengerjaan bantuan sekaligus melakukan evaluasi atas program-program yang sudah dan sedang berjalan.

Sesuai dengan namanya (NTA : Nusa Tenggara Asociation) adalah sebuah LSM kecil di Australia memiliki focus bantuan khusus bagi pemilik ekonomi lemah di wilayah NTT termasuk Kabupaten Sikka. Untuk wilayah Wegok LSM ini mulai bekerja sejak tahun 2003 hal mana semenjak itu LSM yang dipimpin oleh Dr. Colin Barlow, seorang dosen terbang dari Universitas Nasional Australia ini sudah berbuat banyak demi kesejahteraan masyarakat. Bersama YPMF, NTA sudah membangun MCK, Bak Air, Turap, Jalan Beton, Seng Atap, dll bagi masyarakat Wegok. Mereka tergabung dalam enam buah kelompok pemanfaat. Masing-masih kelompok Paujawat A, Pau Jawat B, Tuke Ler I, Tuke Ler II, Sado Du'et dan Tu'an Temot. Sesuai pantuan kami sudah banyak bantuan yang diberikan untuk kelompok di wilayah Wegok, bantuan dimaksud terdiri dari : Bak : 21 unit untuk 21 keluarga, MCK 16 unit untuk 16 keluarga, Tutupan bak : 5 unit, untuk 5 keluarga, Turap  100m' . Rabat Beton : 200 m', Tenun Ikat : 100 lembar, Kursi dan Meja serta MCK dan Baik Air untuk SD Inpres Wegok dan kambing : 6 ekor yang berkembang biak hingga kini menjadi 23 ekor, belum termasuk yang sudah dijual dan digulirkan.

Sesuai penuturan anggota kelompok, mereka sangat gembira dan bahagia atas hadirnya NTA di wilayah Wegok, karena Bantuan yang diberikan langsung tepat sesuai sasaran sebab langsung menjawabi kebutuhan pokok mereka. Sebut saja bak air, mereka yang dulu biasa memikul bambu untuk mengambil air ke kali atau ke Murut, kini mereka hanya memutar kran demi seember atau sejerigan air untuk kebutuhan mereka. dan  kebiasaan membuang kotoran di hutan sudah diminimilizir dengan MCK bantuan NTA-YPMF. Sementara untuk membawa anggota keluarga yang sakit mereka tidak lagi pikul tapi berkat bantuan rabat jalan NTA mereka sudah bisa menggunakan sarana transportasi yang ada (mobil atau ojeck)./aw

Jumat, 14 Oktober 2011

MURUT "Air Mengalir Sampai Jauh"

sumber air keempat - kapasiatas airnya lebih besar
MURUT, Nama ini tidak asing lagi bagi penduduk dusun Wegok dan sekitarnya. Tempat ini menjadi satu-satunya sumber air bagi masyarakat Wegok di Era 1970 s/d 1990-an. Letaknya di sebuah Lembah diapit oleh tiga bukit di sebelah Selatan, Barat dan Timur. Pada tahun 1980-an atas usaha Bapak Drs. Karolus Surat. Putra kelahiran Wegok, beberapa ahli air tanah dari Jakarta mendatangi dan melakukan survey terhadap mutu dan kelayakan air Murut. Mereka kemudian meneliti sumber air ini, didapati bahwa ada sebuah danau kecil dalam tanah di sebelah barat, jaraknya kurang lebih 10 s/d 20 meter dari mata air. Konon kawah ini mengembun melalui penguapan oleh panas matahari dan titik-titik embun inilah yang kemudian keluar sebagai mata air Murut. Hal ini membuat mata air ini menjadi unik karena di musim kemerau mata air ini menjadi lebih jernih dan lebih segar. Semakin panas matahari menyinari bumi semakin besar air yang keluar dari mata air.

Senin, 03 Oktober 2011

"KALAU DITEBANG, DARI MANA KAMI PEROLEH UANG?"

seorang bocah berada di kebun kakao yang ditebang
Dampak perubahan musim dan pemanasan global berakibat terhadap penurunan hasil panen. Selain tidak berbuah, banyak tanaman komoditi seperti kakao, cengkeh sering terserang hama dan penyakit. Sebut saja kanker buah pada tanaman kakao yang menggerogoti buah kakao yang masih muda hingga akhirnya busuk dan tidak dapat dipanen
Selain umur kakao yang sudah cukup tua, menurunya unsur hara pada tanah.merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker buah dan berbagai penyakit lainnya. Pada umumnya jenis tanaman kakao di wilayah Wegok dan sekitarnya adalah jenis Hybrida yang disupply oleh pemerintah pada 1980-an. Jenis Kakao  yang ini mampu memberikan produksi secara terus menerus selama 20 s/d 25 tahun. sehingga adalah wajar kalau produksi tanaman kakao di wilayah Wegok dan sekitarnya menurun drastis.

Sabtu, 03 September 2011

Ruas Jalan Wegok - Kojablatat Mulai Digusur

Setelah tertunda dua bulan pembukaan daerah terisolasi di dusun Wegok akhirnya dimulai juga. Satu unit excavator  didatangkan ke Dusun ini pada Jumat 02 September 2011 dan langsung menggusur di sekitar Sado Du'et menuju Kojabuluk, Menurut Kepala Dusun Wegok, Thomaston Ruas jalan yang digusur adalah Sadoduet - Rohot - Kojabuluk - Kojablatat yang memakan waktu kurang lebih tiga hari. Pembangunan ruas jalan yang dibiayai oleh anggaran Dinas Pertanian Kabupaten Sikka ini memang sedang ditunggu oleh Masyarakat DusunWegok

Selasa, 16 Agustus 2011

JASAMU TAK TERKIRA, JASAMU TIADA TANDANYA


Theodorus Surat
Theodorus Surat, seorang Guru Sekolah Dasar yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Dorus, dilahirkan di Wegok pada tanggal 07 Mei 1940. Setelah bersekolah di SRK Botang, Watublapi  sosok yang sangat jago musik ini kemudian pindah ke SRK Lela I di Lela, karena SRK Botang di Watublapi dibakar beberapa kali akibat Politik Kanilima oleh Moan Jong. Pada tahun 1954 dipindahkan kembali ke SRK Botang  dan tamat tahun 1955.  Ayahnya yang adalah seorang petani kecil di dusun Wegok sempat ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah anaknya ini. Namun hal ini tetap tidak menyurutkan semangat petani ini, Ia kemudian membawanya  ke  Maumere untuk disekolahkan pada jenjang yang lebih tinggi, yakni Sekolah Guru Bawah (SGB) Maumere. Selama di SGB sosok muda ini belajar Ilmu keguruan, atau didaktik metodik dan ilmu-ilmu lainya yang berhubungan dengan pengelolaan sebuah sekolah dasar.

Naluri musiknya yang bagus membuat Guru ini kemudian meluangkan waktu khusus untuk belajar secara extra tentang musik dan pernak-perniknya, sebut saja Harmonum, Gitar, Biola.dan Olah Vocal yang memang sangat popular saat itu. Sehingga sebelum ia menamatkan sekolahnya di SGB Maumere ia sudah menjadi seorang musisi yang cukup populer pada masa mereka. Hal ini dibuktikan ketika beberapa kali mengisi waktu liburan ia sempat memimpin koor di Gereja Materboni Consilii Watublapi dan sempat membentuk  Group Music di kampung Wegok dan sekitarnya, juga ada banyak lagu yang ia buat yang kemudian menjadi tenar di era meraka, seperti Nukak Ami, Ulit Lusi Hama-Hama, Kasi Ora Wine, Me Blutuk Bai Muri, Dolor Wolon dan sejumlah lagu Rohani dll.
Penataran Kepala SD Model di Kupang Tahun 1998
Setelah menamatkan SGB pada tahun 1959 ia lalu mengabdikan dirinya sebagai seorang guru muda yang mana sesuai aturan kala itu harus bekerja purna waktu dan tanpa imbalan apapun pada satu tahun pengabdian pertama. Namun masa sulit ini berhasil dilalui tanpa ada hambatan berarti karena  semangat dan daya juang  yang tidak pernah surut.
Karir gurunya dimulai dari SRK Botang di Watublapi pada tahun ajaran 1959/1960, dan dipindahkan ke SDK Hewokloang pada tahun 1960 s/d tahun 1961. Dua dari muridnya yang punya nama saat ini adalah Mgr Edmundus Woga, uskup Weetabula dan Drs. Sosimus Mitang, Bupati Sikka periode 2008-2013. Kemudian atas permintaannya sendiri ia dipindahkan ke SRK Ona Palue pada bulan Agustus 1961. Namun karena Gunung Rokatenda meletus pada Desember tahun 1961 maka ia bersama rekan-rekan lainya mengungsi dan pulang ke Maumere. Salah seorang muridnya di SRK Ona adalah Wakil Bupati Sikka Periode 2008-2013, dr. Wera Damianus, MM.
Penataran Kepala SD Desa Tertinggal - Kupang, 1995
Setelah itu oleh sanpukat ia ditempatkan di SRK Rohe s/d tahun 1962, kemudian atas usaha Pater Bollen,SVD ia dikembalikan Ke SRK Botang di Watublapi. Di tahun 1965 ia dipindahkan ke SDK Botang II Maget di desa Wolomapa. 

Setelah tujuh tahun mengajar di sekolah ini pemerintah mengeluarkan aturan mengenai ijasah minimum bagi seorang guru SD, maka ia bersama teman-teman guru tamatan SGB lainnya diharuskan mengikuti pendidikan lanjutan, setingkat SLTA yang mereka sebut Kursus Pendidikan Guru (KPG) yang dilakukan pada sore hari setelah proses KBM di SD usai.
Kemudian pada tahun 1975 guru yang penuh inovasi ini dikembalikan ke SDK Watublapi, dan pada Tahun 1976 ia diangkat oleh Sanpukat menjadi Kepala SDK Watublapi (dikukuhkan dengan  oleh SK Gubernur pada tahun 1980). Bekal ilmu KPG kemudian benar-benar diterapkan dalam proses pengelolaan sekolah hingga pada tahun 1978 bersama Bp Guru Robertus Dasi berhasil mendorong SD ini sampai ke pintu sekolah Favorite (model) dimana prosentase kelulusan EBTANAS selalu 100% . Hal serupa juga terjadi pada SD-SD lainnya yang pernah dikepalainya.
Sepeda motor, menjadi kendaraan utama bagi keluarga
Tahun 1983 seiring dengan didirikannya SD Inpres Liwubao, ia dipindahkan ke SD ini, sebagai orang pertama yang meletakan dasar-dasar pengelolaan pada SD baru ini. Atas inisiatifnya bersama Bp. Guru Hende Retong alm. untuk tukar tempat mengajar, maka pada tahun 1984 ia dipindahkan ke SD Inpres Baomekot. Pada kesempatan ini ia diangkat menjadi ketua Rayon guru-guru Watublapi yang meliputi Watublapi-Kloangpopot sampai Habibola dan Waidahi.
Pada tahun 1987 dari Inpres Baomekot kemudian dipindahkan ke SD Inpres Watuwekak, Napun Seda sampai tahun 1988. Kemudian atas usaha ketua POMG Watublapi, alm. Zakarias Sareng ia dikembalikan ke SDK Watublapi.
Sedangkan dalam bidang seni musik Guru yang pernah mengajar Ilmu Musik dan PMP (PPKN) di SMP Hewerbura dan menjadi organis di Gereja Watublapi ini mencatat sejumlah keberhasilan, SDK Watublapi, pernah menjuarai lomba pop singer di banyak event baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat Kabupaten, juga group musik yang dibentuknya kemudian menjadi sangat terkenal pada masa itu sehingga mendapat berbagai pesanan bermain musik di banyak tempat, di Heo dan Egon Lere misalnya.
Setelah menjalani masa pensiun Bapak Guru ini hijrah kembali ke Wegok, kampung dimana ia berasal dan dibesarkan. Bagai pejuang yang tangguh iapun menembus ruang dan waktu,tidak perduli pada zaman apa, pada umur berapa dan pada situasi apa, berbagai jabatan sosial baik itu di pemerintahan maupun di bidang keagamaan kemudian diembankan ke pundaknya. Hingga pada tahun 2010 bersama Bp. Drs. Sebastianus Bata dan Bp. Fransiskus Xaverius, mendirikan SD  di Kampung Wegok yang merupakan SD kaki dari SD Inpres Baomekot. (ths)

Selasa, 09 Agustus 2011

"BITONG", dari Puho ke Wegok

Lepo Gesok dan Warisan Keron kepada Surat
Terdapatlah sebuah Bukit kecil di sebalah barat Dusun Wegok ( ± 3 Km ) yang dikenal dengan nama Hutan Kajowair. Selain sangat subur hutan inipun ditumbuhi oleh banyak umbi-umbian buah- buahan serta sayuran hutan yang dapat dikonsumsi setiap saat. 

Menghindari perang lokal antara Teka dan Toru  melawan Belanda yang tengah berkecamuk di bumi Sikka, seorang anak muda yang bernama Bitong lari dari  kampung halamannya sendiri di Puho desa Iligai, Lela. Dalam peperangan tersebut Moan Timu. (berasal dari tarung gawang) salah seorang teman Teka, dan kawan-kawannya berhasil membakar gereja Sikka, yang kala itu dipimpin oleh R.P. J.F. Le Cocq D'armandviile, SJ sementara Teka berhasil membakar Gereja Koting di kampung Koting, sehingga membuat raja Sikka dan Belanda marah besar dan mengancam akan membalas perbuatan Timu,  Teka dan teman-temannya.  Takut akan ancaman ini, Bitong berrsama saudara-saudaranya (Tepong, Lado, Gesing, Pedan, Dua Timu dan Dua Sareng), pergi meninggalkan kampung halaman mereka di Puho-Tarunggawang, Desa Iligai, Kec, Lela untuk mencari tempat tinggal yang baru, jauh dari ancaman perang lokal melawan penjajah saat itu . Setelah berjalan berhari-hari ke arah Timur sampailah mereka di Hutan Kajowair ini. Kagum akan suburnya hutan ini sementara  letaknyapun agak tersembunyi Bitong dan saudara-saudaranya memutuskan untuk tinggal di tempat yang kemudian menjadi nama Desa yang terdiri dari empat dusun terdekat ini (Watublapi, Wegok, Riidetut dan Watudenak),  dan mulai membukanya untuk  Ladang bercocok tanam.

Guru Theodorus, Putra Sulung Surat dan Istrinya Maria Germina
Karena kampung satu-satunya terdekat waktu itu adalah Wegok maka kemudian Bitong dan  saudara - saudaranya lebih sering berkunjung ke Dusun ini, sampai pada suatu saat mereka memutuskan untuk menetap di Kampung ini, lalu Bitong membeli sebidang tanah dari penduduk asli Wegok dengan harga lima rupiah, sementara Kajowair tetap menjadi Ladang bagi mereka untuk berkebun dan bercocok tanam.

Setelah beberapa tahun kemudian Bitong berkenalan dengan seorang dara cantik, Du'a Glengan, putri Moan Gogu dari Lepo Gogu dan Du'a Woga dari Lepo 'Lora Hewokloang dan berhasil menjalin tali cinta bersamanya. Mereka akhirnya menikah dan melahirkan 2 orang anak perempuan, Tali dan Pare serta 3 anak laki-laki, Lero, Surat dan Marung. 

Namun setelah kelima anak mereka beranjak dewasa, Glengan kemudian diperistri oleh Deteng dari Lepo Buwun Gajon secara tidak syah. karenanya, Deteng harus membayar denda adat atas tuduhan merampas istri Bitong. Deteng kemudian menggadaikan sebidang tanah di Koja Deler,  Dusun Wegok dengan satu batang Gading dari keluarga Bapa di Ihigetegera, untuk  denda adat ini. Dari hasil hubungannya dengan Deteng, Glengan kemudian melahirkan satu orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan, yang diberi nama Panus dan Juli. Kedua anak ini kemudian diakui oleh Bitong sebagai anaknya sendiri. Namun setelah Bitong meninggal, Glengan kembali hidup bersama Deteng secara syah.

Dalam perjalanan Sareng akhirnya menikah dengan Keron dari Lepo Gesok, namun tidak memiliki anak. Maka kemudian Sareng dan Keron pergi menghadap Bitong dan meminta Surat untuk diangkat secara adat , "Wihi Tai Temo Dulak, menjadi anak mereka yang syah.

Untuk itu keluarga Lepo Gesok harus memberi sejumlah belis sebagai ikatan syah atas masuknya Surat kedalam  keluarga Lepo Gesok. Kemudian keluarga Gesok (Lado, Sina. Nuba dan Keron bersama Sareng) pergi menghadap Bitong dan keluarga Puho dengan membawa satu ekor Kuda Jantan dan Kalung emas, namun kemudian Kalung Emas ini oleh Orang Puho di tolak, maka  mereka menggantinya dengan satu pasang Gelang Gading Kebesaran (Mone).

Wihi Tai Temo Dulak atau disebut Wihi e Inat Tait, Temo e Amat Dulak memiliki makna yang sangat kuat, ini berarti Surat lahir ke dunia oleh hubungan suami istri dari Keron dan Sareng. Dengan demikian maka segala hak dan wewenang Keron dalam Lepo Gesok harus menjadi hak anaknya, dalam hal ini Surat.

Jumat, 29 Juli 2011

WEGOK NATAR kampungnya ORANG WEGOK

rajawali pemakan bayi
Fransiskus Xaveirus
Sejarah Kam- pung Wegok dimulai dari "Wegok Natar" di wilayah Napun Seda Kewapante. Karena banyak burung Rajawali yang mencuri dan memakan bayi - bayi mereka maka kemudian orang-orang Wegok Natar memutuskan untuk meninggalkan kampung ini dan mencari tempat yang baru yang lebih aman untuk dihuni. Beberapa dari Mereka akhirnya tiba di kampung Wegok, sebelah Timur Laut kampung Watublapi dan menetap disana. Lalu mereka memberi nama tempat yang baru inipun dengan nama "Wegok", agar kampung yang lama tetap dikenang, dan  agar anak cucu mereka tetap ingat akan tempat asal mereka.

Kemudian untuk membedakan kampung Wegok yang lama dengan yang baru maka mereka menyebut Wegok yang lama dengan sebutan "Wegok Natar" dan Wegok yang baru dengan sebutan "Wegok Wero Utur" karena banyak monyet yang mendiami tempat ini.  Berikut  cerita selengkapnya sebagaimana yang diceritakan kembali oleh Bp. Fransiskus Xaverius.
--------------------------------------------------------
Sejarah Wegok dan beberapa kampung disekitarnya bermula dari adanya lima perempuan yang bernama Biu, Kekan, Mari, Hale Gete dan Hale Doi, beser rta 2 orang laki-laki kakak beradik, (Hale Gete adalah istri dari sang kakak dan Hale Doi ada- lah istri dari sang adik) Mereka pergi mening galkan tanah Malaka hendak mencari tempat huni- an baru. Akhirnya mereka tiba di ujung timur Pulau Flores.

Tetapi karena tidak betah dengan keadaan di ujung Timur pulau Flores Kedua keluarga (Hale Gete dan Hale Doi) bersama suami mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan neyusuri pantai utara Flores menuju ke Barat, sedangkan ketiga perempuan Biu, Kekan dan Mari, memutuskan untuk terus ke berlayar ke barat sampai ke Bima, Pulau Sumbawa.
Setelah beberapa malam perjalanan kedua kakak beradik dan keluarga mereka tiba di suatu dataran yang cukup luas. Kemudian mereka memutuskan untuk mencari air untuk keperluan mereka dalam perjalanan nanti. Lalu mereka sedkit berjalan kaki ke darat dan menemukan danau yang cukup besar. Tetapi kemudian Hale Gete tiba-tiba perutnya sakit hendak melahirkan putra mereka. Mereka akhirnya memutuskan tinggal beberapa bulan di tepi danau ini menunggu sampai kesehatan Hele Gete kembali pulih. Lalu mereka menamakan tempat ini dengan sebutan “Nanga Hale Gete”.
Beringin - Ratusan Tahun (saksi bisu  sejarah Wegok)

Beberapa bulan kemudian merekapun melanjutkan perjalanan mereka terus ke arah barat, tibalah mereka di satu tempat yang sangat subur di kaki sebuah gunung api. Tertarik dengan keadaan ini Hele gete bersama keluarganya memutuskan untuk menetap disini. Maka kemudian tempat ini disebut “Wai Gete”,yang artinya perempuan besar.

Sementara Hale Doi bersama suaminya tetap melanjutkan perjalanan ke Barat. Dalam Perjalanan tiba-tiba Hale Doi merasa hendak melahirkan anak yang sedang dikandungnya, kemudian keluarga ini memutuskan untuk berlabuh di dataran berikutnya agar Hale Doi dapat melahirkan anak mereka dengan selamat. Mereka tinggal ditempat ini, di tepi sebuah danau kecil di pinggir laut selama beberapa bulan menunggu pulihnya Hale Doi. Lalu tempat ini mereka beri nama “Nanga Hale Doi”.

Setelah beberapa bulan tinggal di Nanga Hale Doi mereka melanjutkan pejalan ke barat dan sampailah mereka di Namang Kewa, dan menetap disana selama beberapa tahun. Kemudian datanglah orang Bugis (Gowa) ingin menguasai tempat ini. Lalu terjadilah petempuran sengit di antara mereka. Mereka kalah dan pindah ke sebelah barat tepatnya di Wairbubuk.

Tidak tahan terhadap nyamuk anopleles (Notu) kemudian mereka memutuskan untuk pindah ke selatan menyusuri kali Napun Seda, dan menetap di Napan Bura. Terjadilah kawin mawin antara mereka dengan penduduk asli setempat. Kemudian tempat ini deiberi nama Wegok Natar.

Setelah beberapa tahun datanglah orang Solor dan Lomblen ingin menguasai tempat ini, mereka kembali bertempur dan berhasil memukul mundur orang-orang Solor dan Lomblen serta mengusir mereka untuk pulang ke tanah asal mereka. Kemudian mereka menetap di Wegok Natar ini selama beberapa tahun.

Karena adanya musibah Rajawali memakan bayi-bayi mereka maka kemudian mereka pindah ke selatan menyusuri kali Napun Seda melalui Napun Rau, dalam perjalanan mereka singgah di bukit kecil disebelah timur dan menetap selama beberapa bulan disana. Salah satu putri mereka bernama Dua Bota kemudian mengawini orang asli di bukit ini. Maka kemudian bukit ini diberi nama Botang.

Menhir - Symbol Sajarah Wegok
Kemudian sisa beberapa orang dari mereka antara lain Ojok dan Aning berjalan terus ke Timur menuju ke bukit berikutnya dan membangun hunian baru serta menetap di sana. Utuk mengenang kampung mereka yang lama, Wegok Natar, dan mengingatkan mereka akan asal usul mereka terlebih kepada anak cucu mereka maka tempat yang baru inipun mereka beri nama “Wegok"